(Abujibriel.com)—Ya ayyuhal ikwah, setiap manusia dianugrahi Allah Ta’ala dengan hawa nafsu dan kecintaan terhadap sesuatu hal sebagaimana yang Allah firmankan dalam sebuah ayat,
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali ‘Imran, 3:14)
Na’am, kecintaan seseorang terhadap seseorang lainnya, kecintaan para tholabul ilmu terhadap gurunya, kecintaan para orang-tua terhadap keturunannya, atau kecintaan seorang kepala rumah-tangga terhadap isteri dan anak-anaknya. Bahasan kali ini lebih menitik-beratkan tentang kecintaan seorang suami atau ayah kepada keluarganya. Terdapat beberapa kemungkinan manakala seorang ayah atau suami dalam mencintai anak dan isterinya, yaitu:
1. Sang ayah atau suami berusaha sekuat mungkin untuk dapat memuaskan dan memenuhi kemauan anak dan isterinya. Apa saja yang diminta dalam keperluan dunia harus dapat tercapai. Pantang baginya untuk dapat bersikap sebaliknya. Walaupun anak dan isterinya kurang dalam pendidikan atau kepandaian, yang penting bahagia dan terpenuhi dunianya. Suami atau ayah seperti ini akan berprinsip: “Demi anak dan isteriku, aku rela berkorban apa saja. Anak dan isteriku adalah segalanya, pelita dan darah-dagingku.”
2. Sang ayah atau suami kurang memperhatikan tentang pelayanan yang baik dalam keperluan dunia, tetapi memiliki sifat keras dalam mendidik anak supaya menjadi orang yang pandai dalam ilmu-ilmu dunia. Ia akan sanggup membelanjakan harta seberapapun yang diperlukan demi pendidikan ini, namun meninggalkan pendidkan akhirat. Prinsipnya: “Biarlah hidup dengan meninggalkan banyak keperluan asalkan berjaya dalam studi dan sukses jadi orang berdasi.”
3. Sang ayah atau suami memberikan pelayanan dunia kepada anak-isterinya dalam lingkungan seperlunya. Tidak berlebihan dan tidak juga sampai menjadi fakir atau sangat miskin. Pendidikan dunia dan akhirat menjadi prioritas yang utama. Dia tidak membiarkan pendidkan jahiliyah meresap ke dalam diri anak dan keluarganya yang nantinya akan terus merajalela, sementara pendidikan akhirat terlalaikan.
Jenis dari perwatakan yang pertama dan kedua adalah tidak patut bagi mukmin yang sholih untuk mengikutinya. Keduanya tidak sejalan dengan tuntunan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Anak dan isterinya mestilah diperlakukan dan dididik seperti orang-orang sholih terdahulu dalam mendidik dan melayani keluarga mereka.
Adalah Rasulullah sangat mencintai anak-anaknya dan para isterinya. Simaklah sebuah contoh tentang bagaimana beliau memperlakukan orang-orang yang dikasihinya tersebut:
“Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhu adalah seorang sahabat Rasulullah dan sekaligus menantunya yang sangat miskin. Karena kemiskinannya, ia pernah menjual tenaganya kepada seorang wanita di pedesaan Madinah dan menyewakan tenaganya untuk menimbakan air kepada seorang Yahudi dengan mendapatkan upah satu biji kurma untuk setiap satu timbaan air. Isterinya yaitu Fatimah binti Muhammad pun bekerja keras untuk menumbuk gandum di rumah. Pada suatu hari pasangan suami-isteri tersebut berbincang-bincang. Berkatalah Ali kepada Fatimah, “Aku, demi Allah, telah banyak menimba dan memikul air sampai dadaku terasa sakit. Allah telah memberikan tawanan perang kepada ayahmu, pergilah kepadanya dan mintalah seorang pelayan.” Fatimah pun berkata, “Aku juga, demi Allah, telah banyak menggiling gandum dengan gilingan tenaga sehingga kedua tanganku melepuh.” Maka pergilah Fatimah ke rumah ayahnya meminta agar seorang pelayan diberikan kepadanya, akan tetapi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallaam sedang tidak berada di rumah, maka hal tersebut disampaikannya kepada ‘Aisyah radliyallahu ‘anha. Setelah Rasulullah datang maka maksud kedatangan Fatimah disampaikan oleh ‘Aisyah. Maka Rasulullah pun datang kepada kami (Ali dan Fatimah)saat kami sudah masuk ke kamar tidur. Kami bangun menemui beliau, tetapi beliau shalallahu ‘alaihi wasallaam berkata, “Tetaplah saja di tempatmu berdua.” Lalu beliau bersabda, “Maukah aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik daripada yang kamu berdua minta? Bila kamu berdua akan memasuki tempat tidur, maka bertasbihlah 33 kali, bertahmidlah 33 kali, dan bertakbirlah 33 kali. Itu lebih baik bagi kamu berdua daripada apa yang kamu minta kepadaku. “ (HR. Bukhari)
Dan dalam riwayat lain beliau mengatakan,
“Demi Allah, aku tidak akan memberi kamu. Apakah akan kubiarkan ahli suffah dengan perut yang lapar sedang aku tidak punya untuk membelanjai mereka. Oleh karena itu aku akan menjual tawanan itu agar dengan harganya aku dapat membiayai ahli suffah itu.” (HR. Ahmad)
Berkata ‘Aisyah, “Telah berkata Rasulullah di dalam sakit yang membawa kepada wafatnya, “Hai ‘Aisyah, akan engkau apakan emas itu?” Kemudian ‘Aisyah mengambil antara 5 atau 7, 8 atau 9 buah dan memberikannya kepada Rasulullah. Lalu Rasulullah membolak-balikkan emas itu di tangannya dan berkata, “Bagaimana perkiraanmu bila Muhammad menghadap Allah sedang emas ini masih berada padanya (Muhammad), oleh sebab itu, nafkahkanlah semua emas itu, wahai ‘Aisyah.” (HR. Baihaqi)
Pandanglah dengan bashirah, perhatikanlah dengan teliti, mengapakah Rasulullah tidak memberikan anak kesayangannya (Fatimah) seorang pembantu padahal Rasulullah mampu memenuhi keperluan anaknya? Tapi beliau malah menjawab, “Tidak wahai Fatimah, ada orang yang lebih berhak daripada engkau.” Adapun terhadap ‘Aisyah, mengapakah ia tidak diijinkan menyimpan emas? Sesungguhnya tidak ada larangan, namun disinilah letak pendidikan sejati itu.
Rasulullah mengajari umatnya untuk mencontoh tentang bagaimana cara mencintai anak dan isteri. Bukan hanya dengan memberikan segala apa yang diminta dan memenuhi semua yang diperlukan, tetapi lebih dengan mengarahkan hati dan pikirannya dengan cara yang lembut supaya pandai mensyukuri yang sedikit dan menerima apa yang ada demi kebahagiaan akhirat.
Saksikanlah pula bagaimana Umar ibn Khattab radliyallahu ‘anhu dalam menyayangi anak dan isterinya. Pada suatu hari sampailah ke kota Madinah harta kekayaan yang banyak dari berbagai daerah. Maka datanglah putrinya, Hafsah untuk meminta bagian. Ia berkata sambil bergurau, “Wahai amirul mukminin, keluarkanlah hak kaum kerabat.” “Wahai ananda,” jawab Umar bersungguh-sungguh, “Mengenai hak kaum kerabat adalah dari kekayaan ayahmu, sedangkan harta ini adalah harta kaum muslimin, bangkitlah dan pulanglah ke rumah.”
Pada suatu hari Ummu Kultsum, isteri Umar ibn Khattab mengirim beberapa botol kecil minyak wangi kepada isteri kaisar Romawi Timur sebagai bingkisan persahabatan. Isteri kaisar lalu membalas pemberian tersebut dengan mengembalikan botol-botol dengan berisikan permata. Ketika Umar mengetahui kejadian itu, ia berkata kepada isterinya, “Walaupun wangi-wangian itu adalah kepunyaanmu, tetapi pesuruh yang telah membawanya adalah pegawai negara dan pembiayaan kedutaan besar dibiayai oleh negara.” Maka ia menyita permata itu dan menyerahkannya kepada perbendarahara negara serta membayar sejumlah uang kepada isterinya seharga minyak wangi yang telah dikirimkan kepada isteri Kaisar Romawi itu.
Mengapa khalifah Umar menghendaki anaknya yaitu Hafshah untuk pulang? Dan ‘menyita’ barang milik isterinya sendiri? Pelajaran apa yang bisa dipetik dari kedua peristiwa tersebut?
Bahwasanya beliau radliyallahu ‘anhu mengajarkan tentang bagaimana berhati-hati dalam memegang amanah umat dan agar tidak terjerumus ke dalam perkara-perkara syubhat. Dalam pandangan umat akan perkara tersebut mungkin menjadi sebuah perkara yang terlihat wajar-wajar saja, akan tetapi tidak bagi seorang Umar. Beliau amat takut apabila diri dan keluarganya menyimpang dari jalan Allah Ta’ala, termasuk berhati-hati dari perkara yang samar..
Itulah pelajaran yang agung dan teladan yang lurus, yang sinarnya datang melalui sumbernya yang asli yaitu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallaam. Ini adalah satu perwujudan dari iman, ketakwaan, dan kesholihan. Seorang suami yang sholih tentu akan senantiasa memperhatikan metode dan cara-cara yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Kehebatan seorang suami yang mukmin dan kemuliaannya ialah sampai seberapa jauh ia berusaha untuk dapat mengikuti sunnah nabi-Nya dan sunnah para khulafaa’ ar-Rasyidin di setiap semua perkara, termasuk dalam membentuk keluarga berasas Robbani. Oleh karena itu, cinta kepada isteri dan anak bermakna melayani dan memperlakukannya sebagaimana amanah Allah, berbuat adil kepada mereka dan memberikan hak-haknya sebagaimana yang Allah bebankan kepada si ayah atau suami.
Bagi seorang suami—istri adalah teman hidup yang paling dekat. Ia adalah sahabat setia, penolong, pembawa bebanan yang berat, penasehat di kala kegamangan, penghibur di kala kesedihan, pemberi semangat di kala lemah dan terpuruk, serta penyejuk hati di kala tersengat panas. Ia jugalah penjaga rumah suami dan pendidik bagi anak-anaknya. Namun manakala seorang suami merasakan kebengkokan perangai dari isterinya, maka ia bertugas untuk meluruskan. Ketika seorang isteri berbuat kekhilafan, maka suami memperingatkan serta memaafkan. Ataupun ketika tampak kelelahannya, maka suami pun tidak memiliki kecanggungan untuk membantu rutinitas kerumah-tanggaan isterinya.
Untuk itu wahai para suami, senantiasa do’akanlah isteri agar tetap bersabar dan istiqomah dalam kebenaran. Didiklah ia dengan pendidikan Rabbani. Demikian juga terhadap anak-anak, didik dan arahkan mereka menjadi mujahidin dan mujahidah penegak agama Allah dan pewaris kebenaran di masa depan. Allah Ta’ala telah memperkaya kita dengan harta berharga berupa isteri dan anak-anak yang harta tersebut menjadi sebuah amanah yang kelak dimintai pertanggung-jawabannya. Oleh karenanya Allah Ta’ala tegas mengingatkan kepada setiap hamba-Nya yang beriman perihal ini,
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. at-Tahrim, 66:6)
Demikian uraian singkat ini semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bisshowwab. (abdullahahmad)
(diangkat dari kitab Rojulun Sholih karya Ustadz Abu Muhammad Jibriel AR dengan sedikit revisi)